Pendidikan seksual dianggap masih tabu untuk dibicarakan, terutama pada anak usia dini. Namun, jika bukan kita para orangtua yang ...

Review Buku Aku Anak Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri

Maret 18, 2018 Ipop Purintyas 9 Comments

Aku Anak Berani Cover


Pendidikan seksual dianggap masih tabu untuk dibicarakan, terutama pada anak usia dini. Namun, jika bukan kita para orangtua yang mengenalkan pada anak, siapa lagi? Jangan sampai anak mendapat informasi dari luar yang malah bisa membuat mis-perception dan mis-understanding. Buku Aku Anak Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri bisa jadi pedoman orangtua.


"Ma, dulu waktu aku lahir, keluarnya dari mana?"
"Titit-ku kok beda sama punya Adik, sih?"
"Khitan itu sakit, nggak?"

Pernah nggak, dapat pertanyaan seperti di atas dari si kecil?
Lalu, jawabnya gimana?

Si sulung Nera pernah menanyakan hal-hal di atas ketika usianya menjelang 7tahun. Seingat saya, pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika adiknya, Khalid, baru lahir. Terus terang saya kaget juga, kok tiba-tiba dia nanya hal serius. Saat itu juga saya merasa perlu ngobrol lebih dalam. Tapi dalam hati saya mikir, berarti saya kudu menjelaskan lebih dulu tentang organ reproduksi, dong! Waduh, gimana ya caranya supaya saya bisa menerangkan dengan bahasa sederhana, nggak vulgar, tapi Nera bisa paham?
Seperti biasa, jurus yang saya pakai untuk menjawab pertanyaan anak yang sekiranya susah untuk dijelaskan, adalah dengan mengajaknya membaca buku bersama. Dan buku Aku Anak Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri ini adalah pilihan yang tepat.

Agak telat juga sih sebenernya, saya review buku ini. Secara cetakan pertamanya tahun 2014, hahaha! But, it's never too late to spread important knowledge, kan? Karena buku ini termasuk dalam salah satu daftar "Must-Have" bagi para orangtua.

Aku Anak Berani, Back Cover


Identitas Buku
Judul: Aku Anak Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri
Penulis: Watiek Ideo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1008-4
Tahun: 2014 (Cetakan I)
Jumlah halaman: 127
Harga: sekitar 85 ribu rupiah

Why I like this book?
Well honestly, saya langsung jatuh cinta saat pertama kali membaca buku keren ini. Niat awal saya memang untuk membantu menjelaskan secara sederhana pada Nera tentang organ reproduksi. But, what I get from reading this book is so much more! 
Pendidikan seks untuk anak usia dini yang dianggap masih tabu untuk dibicarakan, terangkum semua dalam kesepuluh cerita dalam buku ini.

Masih ingat kan, sekitar dua tahun lalu sempat marak berita kejahatan seksual yang dilakukan oleh para anggota grup di salah satu sosial media. Dalam grup tersebut, para "predator" saling berbagi cerita, gambar, hingga video "aktivitas" yang mereka lakukan pada anak-anak di bawah umur.
Bahkan menurut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Jasra Putra, terdapat 218 kasus kekerasan seksual anak pada tahun 2015, 120 kasus pada tahun 2016, dan tercatat 116 kasus pada tahun 2017 (kpai.go.id). Sungguh memprihatinkan!
Itulah mengapa buku ini menjadi rekomendasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Aku Anak Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri menjawab keresahan para orangtua yang terkadang merasa risih untuk membahas pendidikan seksual pada anak. Hmm... yang dimaksud pendidikan seksual sejak dini di sini, bukan menerangkan bagaimana aktivitas seksual itu sendiri, ya. Jangan salah paham! Tapi, lebih pada pengenalan anatomi tubuh, fungsi, dan etika.

Dengan membaca buku ini, kita para orangtua dapat menjawab secara sederhana pertanyaan-pertanyaan seperti:
"Dari mana asalnya adik bayi?"
"Kenapa kemaluan laki-laki dan perempuan berbeda?"
"Kenapa anak laki-laki dan perempuan harus tidur terpisah?"
"Khitan itu apa, sih? Sakit, nggak?"
"Kenapa nggak boleh menerima permen (atau makanan lain) dari orang yang nggak dikenal?"
dan berbagai pertanyaan lain yang kerap dilontarkan oleh buah hati kita.

Saya dan Nera pun sampai sekarang masih sering mengulang membaca buku ini.
Ada sepuluh cerita yang diramu dalam bahasa yang sederhana, khas anak-anak, juga full ilustrasi untuk membantu anak mencerna alur. Penggunaan Point of View (sudut pandang) orang pertama semakin memudahkan pembaca untuk relate ke tiap cerita.

Saya akan coba kasih gambaran umum dari tiga cerita favorit Nera di buku ini, ya.

1. Mengapa Tidak Boleh?
Aku Anak Berani, Mengapa Tidak Boleh

Dalam cerita ini, digambarkan seorang anak perempuan yang 'ngeyel' pengen pakai baju (kaos) dalam saja dan celana pendek karena kegerahan. Lalu sang ibu dengan sabar menjelaskan pentingnya menjaga cara berpakaian, juga akibat buruk jika kita memperlihatkan area pribadi pada orang lain.

Sayangnya, ini juga masih lazim terjadi di masyarakat kita. Ketika sekolah, anak pakai seragam rapi, bahkan ada juga yang berlengan panjang dan celana/rok panjang. Tapi begitu sampai rumah, cuma pakai celana/rok pendek dan kaos dalam. Orangtua pun nggak menegur karena alasan kasihan. "Kasihan anaknya kepanasan. Gerah, sumuk!" 
Kebiasaan kayak gini yang perlu segera diubah. Kita harus menanamkan etika berpakaian sopan di luar dan di dalam rumah, dalam cuaca apa pun. Kalau kegerahan, kan bisa menyalakan kipas angin, atau buka semua jendela rumah.

Saya termasuk ibu yang cerewet soal baju. Alhamdulillah sejak balita, Nera terbiasa berpakaian lengkap dan sopan. Sekarang, di usia 8 tahun, dia selalu menutup aurat ketika bepergian. Kalau di dalam rumah, kadang masih pakai kulot dan kaos lengan pendek, sih. Tapi pintu rumah harus dalam keadaan tertutup. Kalau mau main di teras atau di luar, she quickly grabs a hijab before going out.

2. Cerita atau Tidak?
Aku Anak Berani, Cerita atau Tidak

Di sini diceritakan seorang anak bernama Gina yang beberapa hari murung karena telah mengalami kejadian yang nggak mengenakkan. Dia pun takut bercerita pada orangtuanya. 
Penekanan dalam cerita ini adalah betapa pentingnya berbagi cerita dan rahasia apa pun pada orangtua. Juga bagaimana seharusnya reaksi orangtua ketika anak menceritakan kejadian buruk yang menimpanya.

Banyak orangtua yang ketika anaknya menceritakan kejadian buruk, bereaksi marah dan menyalahkan si anak, alih-alih merangkul dan memberi support. Padahal, saat anak sedih atau takut karena kejadian buruk (seperti yang diceritakan dalam buku ini, Gina mengalami pelecehan seksual), anak butuh kepercayaan dari orangtua bahwa mereka akan mendukungnya. 

3. Siapa yang Bisa Melindungiku?
Aku Anak Berani, Siapa yang Bisa Melindungiku

'Siapa yang Bisa Melindungiku?' menceritakan tentang Tiara yang telah pulih secara fisik dan psikologis dari suatu tindak kejahatan. Dalam melalui masa trauma, dia dibantu oleh psikolog. Dia kemudian paham pentingnya mencatat dan menghafalkan nomor telepon darurat seperti nomor polisi, ambulan, pemadam kebakaran, dan lain-lain.

Satu hal yang sering luput dari perhatian orangtua, termasuk saya, adalah meminta anak mencatat nomor darurat. Setelah membaca bab ini, saya pun langsung meminta Nera mecatat dan menghafal nomor telepon saya dan suami. serta beberapa nomor darurat lainnya.


Keunikan lain dari buku ini adalah adanya halaman Tips Untuk Orangtua pada setiap akhir kisah. Halaman tersebut berisi bagaimana sebaiknya orangtua menghadapi dan mengatasi masalah seperti yang terjadi dalam masing-masing cerita, termasuk bagaimana ketika anak sudah terlanjur mengalami pelecehan seksual.
Nggak heran jika Komisi Perlindungan Anak Indonesia merekomendasikan buku ini untuk jadi bacaan wajib anak dan orangtua.

Susah rasanya untuk mencari kekurangan dalam buku Aku Anak Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri.
MUST-READ dan MUST-HAVE deh, pokoknya! 

O iya, Aku Anak Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri 2 juga udah terbit (cetakan I tahun 2016). Kalau yang volume 2 ini temanya adalah bullying. Saya sudah baca, tapi hasi minjem dari iPusnas. Next time deh, saya review juga.
Yang volume 3 dan 4, kata Kak Watiek Ideo, masih dalam proses editing dan ilustrasi. (Info hasil rajin stalking akun instagram beliau, hehehe, secara penulis favorit saya banget!)

Semoga setelah baca review ini, langsung pada beli dan baca bukunya, ya!

9 komentar:

  1. Ilustrasinya gemesin ya mbak. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangeeet. Kesepuluh cerita di buku ini, ilustratornya beda-beda, lho.

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Anak saya masih 11 bulan, tapi enggak ada salahnya persiapan sejak sekarang
    Mau pinjem dua2ny dr ipusnas xixixi
    Ditunggu review yg volume 2 y mbaa
    Penasaran yg ttg bullying nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bene, mba. Buku ini must-have deh pokoknya. Thank u sudah mampir :)

      Hapus
  4. Jadi penasaran mbak, sama bukunya.. Ilmu parenting jaman sekarang itu lengkap ya mbak, sampai pendidikan seks utk anak pun ada aturannya. Apalagi di jaman skr, kudu bener2 hati2.. Ditunggu review buku seri parenting lainnya mbak ipop

    BalasHapus
  5. Iya mba, buku ini must-have krn kdg kita sbg ortu susah mau jelasin sex education pada anak. Thank u sudah mampir, Mba Karin.

    BalasHapus
  6. buku ini sempet jadi kontroversi kan ya, krn ada bbrp orang yg mengambil sebagian isi buku dan menyebarkan via WAG, lalu rame2 ditarik penerbit, dan akhirnya ada statement yg meluruskan. Kadang ya gitu org2, cuma comot2 seenaknya, ga paham semua isinya.

    Aku kenal baik sama mb Watiek Ideo dan suaminya, mbak. Sejak jaman mrk merintis rumba Lintang, semoga kapan2 bisa bertemu ya sama mb Watiek, atau malah duet, aminn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga someday bisa ketemu sama penulisnya. Iya mbak, sayang banget buku2 dg tema spt ini kalau malah disalahgunakan

      Hapus