Source: pixabay “Enaknya kita bikin apa, ya?” tanya Weni. “Hmm… bagaimana kalau kita bikin pai rambutan aja?” Irma memberi saran. ...

Fobia Buah Rambutan

Maret 20, 2018 Ipop Purintyas 9 Comments


Buah rambutan
Source: pixabay

“Hmm… bagaimana kalau kita bikin pai rambutan aja?” Irma memberi saran.
Aku, Weni, dan Irma sedang dalam perjalanan pulang sekolah naik angkot. Weni dan Irma sibuk membicarakan tugas dari Bu Yati, guru Tata Boga. Kami diberi tugas membuat makanan olahan dari buah rambutan.
Sementara aku hanya mendengarkan sambil lalu saja. Rasanya malas sekali membicarakan tentang buah rambutan. Seperti tidak ada topik lain saja!

Ica, kamu kenapa, sih? Dari tadi kok kayaknya enggak bersemangat?” tanya Weni.
“Ah, enggak, kok. Biasa aja,” jawabku berbohong. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Karena aku bisa jadi bahan tertawaan kedua temanku itu.
“Jangan gitu dong, Ca. Cerita aja. Kita kan teman dekatmu,” kata Irma.
“Iya, Ca. Kayaknya dari saat pelajaran Bu Yati tadi, kamu melamun terus. Ada apa sih, sebenarnya?” Weni terus bertanya penuh selidik.

Akhirnya mau tidak mau aku bercerita pada Irma dan Weni, kalau aku takut pada buah rambutan. Iya, aku fobia buah rambutan! Dulu waktu kelas 2 SD, aku pernah memanjat pohon rambutan. Ketika hendak memetik buahnya, tanganku dikerubuti banyak semut. Aku jadi risih. Bahkan beberapa semut menggigit tanganku. Aku langsung panik. Kakiku terpeleset dan aku lupa pegangan pada dahan pohon. Akhirnya aku terjatuh. Sejak saat itu aku tidak mau lagi makan buah rambutan. Melihat rambut-rambut di kulitnya saja, aku sudah membayangkan kalau di situ pasti banyak semut yang bersembunyi.
Source: terminix.com

“Ha ha ha…!” Irma dan Weni kompak menertawakan aku. Tuh, kan! Aku sudah tahu, pasti mereka akan tertawa mendengar ceritaku. Huh! Makin sebal aku rasanya!
“Ica…Ica, ada-ada aja kamu ini. Fobia kok sama rambutan.” Irma masih saja meledek. Beberapa penumpang di angkot melihat ke arah kami. Aku cuma menundukkan kepala karena malu.
**

Hari ini kami bertiga berkumpul di rumah Weni untuk membuat pai rambutan.
“Ca, kita punya sesuatu buat kamu,” kata Irma sambil mengeluarkan kotak makan miliknya. Aku tahu pasti isinya rambutan. Aku sudah bersiap mau menjauh. Iih, aku tidak mau melihat apalagi sampai memegangnya! Sudah terbayang ratusan semut yang akan keluar dari balik rambut-rambut di kulit buah itu.
“Eits, jangan keburu takut dulu, Ca.” Weni sudah berdiri di belakangku, menghalangi supaya aku tidak kabur.
            
Irma perlahan membuka kotak makannya. Jantungku berdegup kencang. Perutku seketika mulas.  Aku gugup sekaligus takut. Kututup saja mukaku dengan kedua tangan.
“Ini diaaa…! Lho, kok malah ditutup mukanya? Lihat ini dong, Ca!”
Aku mengintip dari sela-sela jari tanganku yang masih menutupi wajah. Oh, ternyata isinya buah rambutan yang sudah dikupas. Aku sedikit lega. Tapi tetap saja aku merasa jijik.

“Aku dulu juga pernah fobia, Ca. Aku takut sekali berenang. Apalagi di kolam yang dalam. Waktu kecil aku pernah tenggelam. Untung ada orang yang melihat dan langsung menolongku.” Weni menceritakan pengalamannya. “Tapi, kedua orang tuaku tetap mengajakku ke kolam renang. Meskipun awalnya aku menjerit-jerit ketika diajak duduk di pinggir kolam, lama-kelamaan aku bisa mengatasi ketakutanku,” lanjut Weni.

“Iya, Ca. Menurutku, kamu itu bukan fobia buah rambutan. Kamu hanya takut dikerubuti semut yang sembunyi di kulitnya. Nih, coba pelan-pelan kamu pegang buahnya. Kan sudah dikupas.” Irma menyodorkan kotak makan berwarna hijau itu.

“Ih, kalian apa-apaan, sih? Ogah, ah!” protesku. Irma dan Weni tertawa melihat mimik wajahku yang kelihatan takut sekaligus jijik. Tapi mereka terus memaksa. Kata mereka, aku harus mencoba memegang buah rambutan kupas itu pelan-pelan.

Kujulurkan jari telunjuk untuk menyentuh buah rambutan itu. Hiiy, terasa dingin, lengket, dan agak kenyal. Aku mengernyitkan dahi dan meringis, Ih, jijik sekali rasanya! Lalu, pelan-pelan Irma meletakkan rambutan kupas itu di telapak tanganku. Uuh, rasanya ingin kubuang saja!

“Tuh, kan! Kamu udah enggak takut memegang rambutan,” celetuk Weni.
“Iya, tapi tetap aja jijik!” Aku kembali memprotes. Kuletakkan rambutan kembali di kotak makan. Irma dan Weni cekikikan melihat tingkahku.

“Ya sudah, begini aja, deh. Kamu bantu bikin adonannya dulu, ya, Aku sama Weni mau memisahkan daging buah dari isinya.” pinta Irma. Yah, begitu lebih baik. Aku tidak harus berurusan dengan rambutan. Aku mulai mengaduk mentega, gula halus, dan tepung terigu dalam bakom plastik. Terakhir, kutambahkan kuning telur dan kuaduk lagi. Setelah adonan jadi, kumasukkan ke dalam kulkas supaya agak mengeras. Tiga puluh menit kemudian, aku memasukkan adonan ke dalam oven.

“Yuk, sekarang kita potong daging rambutannya kecil-kecil,” kata Weni sambil menyodorkan pisau kecil.
“Hah? Enggak mau, ah!” tolakku. Meskipun sudah dipisah dari isinya, aku malas kalau harus memengang daging buahnya yang lengket.
“Coba dulu lah, Ca! Sini aku bantu!” Irma meletakkan satu daging rambutan di talenan. “Nah, sekarang coba kamu potong jadi tiga bagian.”

Akhirnya aku memberanikan diri memegang daging rambutan itu lalu memotongnya.
“Wah, hebat kamu, Ca! Ayo coba lagi!” Weni mencoba menyemangati. Aku hanya melirik sewot padanya. Aku mengambil satu buah dan memotongnya lagi. Lagi, dan lagi. Sampai daging buah rambutannya habis.

“Tuh kaaan, aku bilang juga apa. Sebenarnya kamu itu enggak fobia. Cuma takut mencoba,” tukas Irma. Weni pun mengangguk setuju.
Source: cookpad.com

Tring! Oven berbunyi menandakan pai sudah matang. Hmm, wangiii! Weni mengeluarkannya dari oven dengan hati-hati. Wah, cantik sekali! Aku jadi tidak sabar ingin segera menghias pai buatan kami, juga mencicipinya. Aku senang sekali karena kami berhasil mengerjakan tugas Tata Boga dari Bu Yati. Terlebih lagi, aku gembira karena perlahan bisa mengatasi fobiaku terhadap buah rambutan.

***


9 komentar:

  1. Fobia aku mbak lihat foto makanan enak, bikin nggak mau lihat takut khilaf lapar wkwk.

    Lucu ya mbak ini masuk ke cerpen di salah satu buku mbak tah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, pai buah emang paling endes, yak. Cerpen ini terpilih dlm lomba cernak famindonesia, termasuk dlm naskah yg dibukukan.

      Hapus
  2. Wahh, seruu ceritanyaa
    Jadi harus diubah dalam bentuk lain ya biar g fobia wkkj

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, Mba. Hahahaha. Thank u sudah mampir :)

      Hapus
  3. Pai rambutannya bikin ngiler, hadeeh, orang yang laper mata kaya dirikuh bakal tergoda nih mbak

    Btw, pobia itu macemnya ternyata aneh2 mbak, phonia takut kuda, takut buku, takut benjolan banyak. Ada sepupuq yang phobia buah salak mba, sampe kalo ad bau salak teriak2 ga jelas --,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, mgkn bisa ciba kayak di atas, Mba. Dikupas dulu buahnya. Kadang yg bikin takut itu kulitnya, lol!

      Hapus
  4. aku suka ceritanyaaaa mbakkk. Aku punya temen fobia bawang putih dan merah tau mb, dalam bentuk mentahnya, wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank u, Mba Prita. Waduh, ini malah lebih ajaib, fobia bawang merah n putih :D

      Hapus