“Maaf ya, Ki. Hari ini rotimu banyak yang sisa. Terjual sepuluh buah saja.” Bu Rita memberikan dua lembar uang sepuluh ribuan dan si...

Keajaiban Sedekah

April 26, 2018 Ipop Purintyas 2 Comments




“Maaf ya, Ki. Hari ini rotimu banyak yang sisa. Terjual sepuluh buah saja.” Bu Rita memberikan dua lembar uang sepuluh ribuan dan sisa roti titipan pada Kiki.

“Tidak apa-apa Bu Rita. Alhamdulillah,” jawab Kiki dengan sedikit lesu. Ia tak dapat menyembunyikan kekecewaannya.

Kiki adalah anak yatim piatu. Ia tinggal dan diasuh oleh adik ibunya, yang ia panggil Tante An. Sehari-hari Tante An berjualan roti. Roti tersebut dititipkan di warung-warung dekat rumahnya untuk dijual. Kiki senang sekali bisa membantu Tante An membuat roti. Karena Tante An memberikan separuh dari keuntungan penjualan roti pada Kiki.

“Te, ini uang hasil penjualan dan sisa rotinya.” Kiki meletakkan uang dan sekeranjang roti sisa di meja. Ia dapat melihat sedikit kekecewaan di wajah Tante An. Sudah seminggu ini roti yang ia titipkan di warung-warung tidak semua habis. Bahkan sisa roti hari ini lebih banyak dari kemarin.

“Yuk, kita bagikan sebagian roti-roti ini ke Bu Romlah. Anak-anaknya pasti senang bisa makan roti,” kata Tante An sambil tersenyum.

Tante An memang baik hati, batin Kiki. Meskipun hanya untung sedikit, Tante An tidak lupa untuk selalu berbagi pada orang yang kurang mampu, seperti tetangga mereka Bu Romlah dan Mbah Surip. Bu Romlah adalah janda dengan lima anak yang masih kecil-kecil. Sedangkan Mbah Surip adalah kakek tua yang hidup sebatang kara.

“Kenapa tidak kita jual lagi saja roti-roti ini ke warung Pak Amat di jalan raya, Te? Kiki bisa kok mengantarkan roti ini naik sepeda,” usul Kiki.

Lalu Tante An menjawab, “Tidak usah, Ki. Lebih baik kita sedekahkan saja ke yang membutuhkan. Insyaallah lebih berkah.”

“Kan kita masih bisa untung kalau roti-roti itu dijual lagi, Te.” Kiki bersikeras.

“Tidak apa-apa, Ki. Berjualan itu bukan hanya soal untung dan rugi. Yang penting berkah. Dan yang tidak kalah penting adalah bersedekah. Kalau kita rajin bersedekah, Allah akan memudahkan urusan kita.” Tante An memberi pengertian pada Kiki. Kiki mengangguk-angguk tanda setuju. Ia lalu masuk ke kamarnya. Dalam hati sebenarnya ia masih merasa sayang jika roti-roti sisa itu tidak dijual kembali.

Kiki terus memikirkan cara supaya roti-roti Tante An bisa habis terjual. Apa orang-orang bosan, ya dengan rasa roti buatan Tante An? tanya Kiki dalam hati. Tiba-tiba terbersit ide dalam benak Kiki. Ia lalu membuka-buka halaman buku resep. Ia menemukan beberapa resep kue sederhana. Bahan-bahannya tidak terlalu mahal. Ia pun menyampaikan idenya pada Tante An.

“Te, bagaimana kalau besok kita coba bikin kue saja? Nih, Kiki menemukan resep aneka kue.”
Kiki menyodorkan buku resep itu pada tantenya.

“Menurut Kiki, mungkin orang bosan dengan roti, Te. Tidak ada salahnya kan, kita coba sesuatu yang sedikit berbeda?”

Tante An membaca resep aneka kue di buku itu. Ada kue tape, kue pisang, brownies kukus, kue kelapa muda, dan lain-lain. Matanya berbinar riang. Ia menyetujui ide Kiki.

“Ide bagus, tuh, Ki. Besok kita coba bikin kue tape dan pisang keju, ya.”
*

Keesokan paginya, di dapur Tante An sudah tercium wangi kue tape dan kue pisang keju yang sedang dioven. Membuat kue ternyata mudah. Dan prosesnya pun lebih cepat karena adonannya tidak harus diuleni dan dibiarkan mengembang seperti roti. Kiki sangat bersemangat membantu Tante An. Ia berdoa supaya kali ini kue-kue Tante An bisa habis terjual.

Kue-kuenya sudah matang! Tante An mengeluarkan loyang kue dari oven dengan hati-hati karena masih panas. Hmm… wanginyaaa…

“Kiki, nanti kalau sudah dingin, tolong masukkan kue-kuenya dalam plastik, ya. Lalu tolong antarkan ke warung Bu Rita, Bu Ambar, dan Yuk Nah,” kata Tante An.

“Siap, Tante!” sahut Kiki bersemangat. “Oh iya, Te. Boleh tidak, kalau Kiki bawa beberapa untuk dijual ke teman-teman di sekolah?”

“Boleh, dong. Mudah-mudahan teman-teman Kiki suka, ya.”
*

“Hmm… enak sekali kue tape buatan tantemu, Ki,” kata Lila sambil mengigit kue tape.
“Iya, Ki. Lembut, wangi lagi,” sahut Rani setuju.
“Besok bawa lagi yang banyak, ya,” pinta Desi.
“Aku juga pesen kue pisang kejunya, dong!” timpal Bayu.
“Aku juga… aku juga!” sahut teman-teman Kiki yang lain.

Kiki senang sekali karena teman-teman menyukai kue-kuenya. Semua kue yang ia bawa hari ini ke sekolah, habis terjual. Bahkan Bu Nila, wali kelas Kiki juga membeli empat buah kue. Teman-temannya pun banyak memesan kue pisang dan tape untuk besok. Kiki lebih gembira lagi ketika mengetahui bahwa kue yang dititipkan di warung Bu Rita, Bu Ambar, dan Yuk Nah terjual semua.

“Alhamdulillah… seneng ya, Ki kalau orang-orang pada suka sama kue buatan kita,” kata Tante An riang.
“Iya, Te. Alhamdulillah. Besok temen-temen juga banyak yang pesen, lho.”
“Besok kita buat yang lebih banyak. Kita bagi juga ke Bu Romlah dan Mbah Surip.”
“Baik, Te. Minggu depan kita coba membuat kue kelapa muda sama brownies kukus ya, Te. Supaya bervariasi dan pelanggan tidak bosan.”
“Ide bagus tuh, Ki. Nah, sekarang Kiki sudah mengerti, kan ajaibnya bersedekah?” tanya Tante An.
“Ha? Maksudnya bagaimana, Te?” Kiki balik bertanya.

“Begini, seminggu kemarin kan roti kita banyak yang tidak laku. Meskipun untung sedikit, kita tetap berusaha memberi pada tetangga kita yang kurang mampu. Alhamdulillah Allah telah memberi kita jalan keluar supaya jualan kita laku sampai habis.” Tante An menjelaskan sambil mengelus kepala Kiki.
“Oh iya ya, Te. Karena kita suka berbagi, Allah memudahkan usaha kita,” sahut Kiki sambil tersenyum riang.

“Yup, benar sekali. Jadi, sedekah itu tidak harus menunggu kaya, atau menunggu kalau banyak uang. Lebih baik kita rutin bersedekah meskipun jumlahnya sedikit. Insyaallah lebih berkah dan Allah akan melancarkan semua urusan kita.” Tante An menambahkan.
Kiki menganggukkan kepala sambil mengangkat dua jempolnya tanda setuju. Ia sangat gembira hari ini karena semua kuenya habis terjual. Dan yang terpenting, Kiki sudah paham akan keajaiban bersedekah.

***



2 komentar:

  1. Mbak aroma kue tapenya Tante an nyampe malang 😖😖

    Iya mbak. MasyaAlloh ya..kadang lewat pwrhitungan dan logika manusia yg namanya sedekah itu malah berkurang.

    Tapi tdk bagi orang yg percaya adanya hari Akhir, mereka tahu bahwa harta sebenarnya itu ialah harta yg dikeluarkan.

    Nais setori mak.. ngena banget hikmahnya

    BalasHapus
  2. Sesungguhnya kita yang sedekah tapi kita nggak berkurang apa-apa malah ditambahkan nikmat oleh Allah. InsyaAllah.

    Ini dibukukan juga mbak? Waah.

    BalasHapus