Fathan bersemangat sekali pagi ini. Kemarin Bu Aida, wali kelasnya, mengatakan kalau hari ini kelas 5A akan kedatangan murid baru, pi...

Murid Baru yang Pemalu

April 08, 2018 Ipop Purintyas 0 Comments



Fathan bersemangat sekali pagi ini. Kemarin Bu Aida, wali kelasnya, mengatakan kalau hari ini kelas 5A akan kedatangan murid baru, pindahan dari Kota Medan. Wah, senangnya punya teman baru!

Fathan bahkan telah menyiapkan sebuah kotak pensil buatannya sendiri, untuk dihadiahkan kepada teman barunya itu. Kotak pensilnya terbuat dari kaleng bekas makanan ringan, kemudian dilapisi kertas berwarna perak. Fathan menggambar beberapa robot dengan spidol warna hitam untuk menghiasnya. Keren, ya!

“Wah, Fathan semangat sekali pagi ini. Bukannya pelajaran olah raga sudah kemarin, ya?” Ayah menyapa Fathan yang terlihat senang. Biasanya, Fathan bersemangat dan riang kalau hari itu ada pelajaran olah raga.

“Hari ini memang enggak ada pelajaran olah raga kok, Yah. Tapi, hari ini ada yang spesial di kelas,” jawab Fathan sambil menuangkan susu di mangkuk berisi sereal untuk sarapannya.

“Wah, apa ini?” Ayah memegang kotak pensil bergambar robot buatan Fathan.

“Ini kotak pensil buatan Fathan, Yah. Hari ini, akan ada murid baru di kelas. Kotak pensil ini buat si teman baru,” jawab Fathan sambil melahap serealnya.

“Wah, bagus banget, Fathan,” puji Ibu.

“Iya ya, Bu. Kotak pensil buatan Fathan keren,” sahut Ayah.

“Terima kasih, Ibu, Ayah.”

Tak lama kemudian, Fathan sudah siap untuk berangkat sekolah. Ayah akan mengantarnya dulu, baru kemudian Ayah berangkat ke tempat kerja.
*

“Assalamualaikum, Teman-teman. Namaku Billy. Aku pindahan dari Medan.” Si Murid Baru memperkenalkan diri di depan kelas. Billy berbadan agak tambun dan berkulit putih. Rambutnya lurus dan matanya agak sipit. Ia berbicara sambil menunduk. Billy memang agak pemalu. Bu Aida mempersilakan Billy untuk duduk di sebelah Fathan, karena memang kosong.

“Hai, aku Fathan.” Fathan dan Billy bersalaman. Ia kemudian menyodorkan kotak pensil buatannya. “Ini buat kamu. Aku membuatnya sendiri, lho.”

“Wah, terima kasih banyak, ya.” Billy menerima pemberian Fathan.

Fathan senang sekali karena Billy duduk di sebelahnya. Namun, ternyata Billy anaknya pendiam. Ia tidak banyak berbicara. Saat muroja’ah surat-surat pendek, ia diam saja. Bahkan saat istirahat pun ia memilih tinggal di kelas, sementara semua siswa bermain di lapangan atau membeli makanan di kantin.

“Billy anaknya pendiam banget, ya,” kata Rayyan.

“Iya. Kenapa ya dia kok pendiam banget? Waktu muroja’ah tadi dia juga diam aja, lho,” sahut Fathan. “Padahal tadi aku udah kasih dia hadiah kotak pensil buatanku. Apa dia enggak suka, ya?” Fathan jadi bertanya-tanya.

“Coba aja kamu tanya ke dia sepulang sekolah nanti.” Rayyan berkata pada Fathan.

“Iya deh, nanti aku tanyakan.”
*
       
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Sebagian murid kelas 5A langsung berhamburan ke luar kelas. Billy sedang merapikan buku-bukunya. Fathan menunggu Billy. Ia ingin mengajak Billy shalat Ashar berjamaah di masjid sekolah.
            
“Billy, kita shalat Ashar dulu di masjid, yuk. Lima belas menit lagi adzan,” ajak Fathan.
            
“Mm… enggak deh, aku pulang aja. Aku shalat di rumah aja nanti,” jawab Billy sambil menundukkan kepala.
            
“Enggak usah malu, Billy. Anak-anak di sekolah ini baik-baik, kok. Kami sering main bareng kakak atau adik kelas. Besok ikut main bola bareng di lapangan, ya.” kata Fathan.
            
“Mm… iya, lihat besok, ya.” Billy hanya menjawab singkat.
            
“Kenapa, Billy? Kamu enggak suka ya sekolah di sini?” Fathan benar-benar penasaran pada sikap Billy yang pendiam dan menutup diri. “Tadi waktu muroja’ah kamu juga diam aja.”
            
“Enggak kok, Fathan. Aku senang sekolah di sini. Aku cuma….” Billy tidak meneruskan kata-katanya.
            
“Cuma apa, Billy?” tanya Fathan.
            
“Mm… enggak apa-apa, Fathan. Aku pulang dulu, ya,” jawab Billy malu.
            
“Billy, anggap aja aku ini sahabatmu. Kamu bisa cerita apa aja sama aku.” Fathan mencoba mencari tahu mengapa Billy begitu pemalu.
            
“Mm… tapi kamu janji jangan ketawa, ya.” Billy takut kalau Fathan akan menertawakannya. Fathan mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya, membentuk huruf V, dan dia berjanji tidak akan menertawakan cerita Billy.
            
“Begini Fathan, mm… aku ini seorang mualaf. Aku baru dua bulan ini memeluk agama Islam. Kedua orang tuaku juga mualaf. Sebenarnya sudah sejak awal tahun, sih kami mempelajari Islam. Tapi, aku belum hafal banyak surat-surat dalam Al-Qur’an. Aku belum bisa membaca Al-Qur’an. Bacaan shalat juga masih terbata-bata. Wudhu pun aku masih sering lupa anggota tubuh mana yang harus didahulukan.” Billy menjelaskan alasannya panjang lebar. “Mamaku bilang, bersekolah di sini akan sangat membantuku untuk memahami Islam dan menjalankan kewajibanku sebagai muslim.
            
Sekarang Fathan tahu mengapa Billy begitu pemalu. Teman sebangkunya itu belum terbiasa dengan identitas barunya sebagai seorang muslim.
            
“Masya Allah Billy, kamu kenapa enggak bilang dari tadi? Udah gini aja, deh. Aku bantu ajarin kamu pelan-pelan, ya. Mulai dari wudhu, bacaan shalat, hafalan surat-surat, pokonya semua, deh! Aku juga punya banyak buku cerita Islami yang bisa kamu baca, supaya belajar Islam jadi menyenangkan. Oke? Enggak usah malu, Billy. Kita kan teman.” Fathan senang sekali jika bisa membantu Billy. Ia tahu bahwa Billy sebenarnya bukan anak pemalu.


“Allaahu Akbar… Allaahu Akbar.” Adzan tanda waktu shalat Ashar telah berkumandang.
            
“Nah, sudah adzan. Yuk kita ke masjid. Aku tunjukkan cara berwudhu, kamu bisa mengikuti,” ajak Fathan pada Billy.
            
Kini Billy sedang memperhatikan dan mengikuti tata cara berwudhu yang dicontohkan oleh Fathan.
            
Fathan membaca basmalah, kemudian membasuh kedua tangannya. Ia lalu berkumur, menghirup air dengan hidung kemudian mengeluarkannya. Setelah itu ia membasuh muka, membasuh kedua tangan hingga ke siku, mengusap kepala dimulai dari rambut bagian depan ke belakang, lalu mengusap kedua telinga dalam dan luar. Terakhir ia membasuh kedua kakinya hingga mata kaki. Semua gerakan dilakukan sebanyak tiga kali kecuali membasuh kepala dan telinga hanya satu kali.
            
Billy megikuti gerakan wudhu Fathan. Setelah selesai, Fathan mengajarinya doa setelah wudhu.
            
“Asyhadu alaa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahummaj’alnii minattawwaabiina, waj’alnii minal mutathahhiriin. Subhaanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alaa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa ‘atuubu ilaik.”
            
Kedua teman baik itu kemudian memasuki masjid dan bersiap untuk shalat berjamaah. Billy akhirnya tersenyum lega. Dari kemarin ia tidak percaya diri karena takut akan ditertawakan teman-teman barunya kalau ia belum bisa beribadah dengan benar. Alhamdulillah ia mendapat teman sebaik Fathan yang mau mengajarinya tentang Islam lebih banyak lagi.

***

ENSIKLOPEDI ISLAM

Adik-adik yang disayang Allah, senang sekali ya, kalau punya teman baik seperti Fathan, yang mau berbagi ilmu tentang Islam. Semoga Adik-adik semua juga seperti itu, ya.
            
Nah, membahas tentang wudhu, ada tiga kondisi di mana seorang muslim diwajibkan berwudhu, yaitu:
1.      Ketika akan shalat, baik shalat fardhu maupun sunah
Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat Al-Maidah ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

2.      Ketika hendak thawaf mengelilingi Ka’bah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 Thawaf di Ka’bah seperti shalat, namun di dalamnya dibolehkan sedikit bicara.(HR. An Nasai)
Karena disebutkan bahwa thawaf adalah seperti shalat, maka sebelum thawaf seorang muslim diwajibkan berwudhu, seperti ketika hendak shalat.

3.      Memegang mushaf Al-Qur’an
Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Amru bin Hazm radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Tidak boleh seseorang memegang Al-Qur’an, kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Malik)

Setelah Adik-adik tahu ibadah apa saja yang mewajibkan seorang muslim wudhu terlebih dulu, sekarang kita akan membahas mengenai tata cara berwudhu sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tata cara berwudhu yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:
1.      Berniat dalam hati.
2.      Membaca basmalah.
3.      Membasuh kedua tangan tiga kali.
4.      Berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung kemudian mengeluarkannya, sebanyak tiga kali.
5.      Membasuh muka tiga kali.
6.      Membasuh tangan, dimulai dari ujung jari, menggosok-gosok lengan, membasuh siku, dan membersihkan sela-sela jemari. Dilakukan tiga kali dengan mendahulukan tangan kanan.
7.      Membasuh kepala satu kali, dimulai dengan membasuh kepala bagian depan, lalu kepala bagian belakang, diteruskan dengan memasukkan telunjuk ke lubang telinga, sedangkan ibu jari menggosok telinga bagian luar.
8.      Membasuh kaki, dimulai dengan membasuh ujung-ujung jari sampai mata kaki, mencuci mata kaki, dan membersihkan sela-sela jari kaki. Dilakukan sebanyak tiga kali dengan mendahulukan kaki kanan.
9.      Membaca doa sesudah berwudhu:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
“Aku bersaksi, bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya. Aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang (yang senang) bersuci. Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji kepadaMu. Aku bersaksi, bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepadaMu.” (HR. An-Nasai)

Nah, itu tadi adalah tata cara berwudhu sesuai sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan jika kita berwudhu dengan benar, lalu shalat dua raka’at dengan khusyu’, maka Insyaa Allah kita bisa masuk surga, lho. Coba baca hadits berikut:
Dari Uqbah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seorang muslim yang berwudhu dengan sempurna, kemudian melakukan shalat dua raka’at dengan menghadapkan hati dan wajahnya (kepada Allah), maka wajib baginya masuk surga.” (HR. Muslim)

Wah, begitu besar ya pahala yang diberikan Allah jika kita berwudhu sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Allah pun menjanjikan surga untuk umatnya. Semoga Adik-adik semakin semangat dalam berwudhu dengan benar, ya.









 


0 komentar: