“Women are the real architects of society.” (Harriet Beecher Stowe) Nggak berlebihan rasanya menelaah makna dari quote di atas....

Perempuan Berkarya dan Berdaya dari Rumah, Bisa! Bersama Alfamart, The Jannah Institute, dan Bidadari Jember

April 22, 2018 Ipop Purintyas 13 Comments


pelatihan pemberdayaan perempuan 1


“Women are the real architects of society.” (Harriet Beecher Stowe)

Nggak berlebihan rasanya menelaah makna dari quote di atas. Karena memang perempuan sejatinya adalah tonggak peradaban. Di balik kelemahlembutan tersimpan kekuatan. Di balik kesabaran terdapat hasrat yang menggebu untuk berkarya, melakukan sesuatu yang bernilai di mata masyarakat.

Jika berbicara dari segi ekonomi, fenomena working mom kini sudah menjadi hal biasa. Namun sebagian juga merasakan dilema, terutama berkaitan dengan meninggalkan anak sehingga waktu bersama keluarga berkurang. Tapi, bukan perempuan namanya jika nggak punya solusi. Kini, sering muncul istilah womenpreneur atau mompreneur yang kerap diartikan sebagai perempuan yang berkarya (dari rumah) dan bisa membantu perekonomian keluarga. Mereka pun berlomba-lomba menjadi kreatif dalam berkarya sesuai passion masing-masing. Ada yang memasak, baking, crafting, menulis, dan sebagainya.

Dengan semakin marak bermunculan womenpreneur, Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat semakin banyak pula diadakan. Seperti yang diselenggarakan Alfamart pada hari Kamis, 19 April 2018 lalu. Bekerja sama dengan The Jannah Institute dan didukung oleh komunitas Bidadari Jember, acara Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat (Khusus Perempuan) tersebut berlangsung sangat meriah. Pelatihan yang bertempat di Rumpi Rumpi Bistro Jalan Tidar Jember itu dihadiri oleh 20 orang womenpreneur anggota komunitas Bidadari Jember dan 10 orang blogger.

pelatihan pemberdayaan perempuan 3


Mbak Ratnadiast, founder komunitas Bidadari Jember, membuka acara selaku MC. Ia bercerita sedikit mengenai latar belakang terbentuknya Bidadari Jember. Menjadi perempuan berdaya yang saling mendukung sesama anggotanya tanpa mengesampingkan kodrat adalah tujuan komunitas ini. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Yosia Andika selaku Branch Manager PT. Sumber Alfaria Trijaya area Jember dan sekitarnya. Beliau memaparkan bahwa Alfamart nggak jarang mengadakan kegiatan serupa sebagai bentuk dari kegiatan Coorporate Social Responsibility (CSR). Sebagai minimarket pertama dengan member terbanyak di Indonesia, Alfamart berharap dapat semakin dekat dengan masyarakat.

Crafting Session with Mayar Shopping
Pelatihan Pemberdayaan Khusus Perempuan tentu nggak lengkap tanpa hadirnya womenpreneur sebagai pembicara. Nah, sesi pertama kegiatan ini diisi oleh success story dari Mbak Dewi Uji, owner Mayar Shopping. Mompreneur asli Mojokerto ini bercerita tentang awal mula ia menjalani usaha crafting undangan dan suvenir unik. Ketika masih menginjak bangku kuliah, ia dimintai tolong oleh kerabatnya untuk membuat undangan. Agar terkesan unik dan catchy, ia memakai daun waru sebagai bahan dasarnya. Wuih, keren, ya!

Mbak Dewi Uji, owner Mayar Shopping

Nggak lengkap dong rasanya, kalau cuma menyimak cerita pembuatan undangan aja tanpa praktek. Maka Mbak Dewi Uji pun membawa alat dan bahan untuk para peserta supaya bisa praktek langsung. Hm, kebayang kan serunya! Kami pun mulai riuh mencoba membuat undangan dan suvenir berbahan dasar kertas karton dan serbuk kayu. Hah, serbuk kayu? Yup, nggak nyangka ya, kalau sesuatu yang dianggap sebagai limbah pertukangan ini bisa disulap jadi sesuatu yang bernilai jual.

Keseruan para peserta membuat undangan dari serbuk kayu

Mbak Dewi Uji adalah salah satu contoh bahwa perempuan bisa berkarya dari rumah. Tentu masih banyak hobi dan keterampilan lain, yang jika diasah, akan berkembang hingga menghasilkan pendapatan untuk membantu perekonomian keluarga. Well, memang bukan tugas utama seorang perempuan untuk mencari nafkah. Namun, jika mempunyai hobi yang dapat disalurkan dan menghasilkan, serta dijalani dari rumah tanpa meninggalkan tanggung jawab utama sebagai ibu dan istri, why not?

Wedding souvenir by Mayar Shopping


Writing Engaging Caption for Social Media
Setelah kita punya produk (dan jasa) yang bisa dijual, what’s the next step? Promosi dong tentunya! Thank God di zaman yang serba canggih ini, promosi bisa dilakukan dengan modal jempol doang, hehe. Tinggal duduk manis, buka Instagram, upload foto produk kita, beres deh! Wait, nggak segampang itu juga, kalii. Upload foto pasti butuh caption yang kece agar produk kita menarik calon konsumen. Nah, pas banget karena di sesi kedua pelatihan ini, diisi oleh Mbak Prita HW yang membawakan materi tentang menulis caption menarik di media sosial.

Mbak Prita HW adalah seorang knowledgepreneur sekaligus founder The Jannah Institute. Sebagai seorang professional blogger dan social influencer, kesehariannya tentu nggak jauh-jauh dari yang namanya tulis-menulis, termasuk menulis caption. Kenapa sih, nulis caption aja kok sampe dipikirin bener? Itulah salah satu perbedaan antara pedagang dan pebisnis. Mbak Prita memaparkan bahwa seorang pedagang umumnya nggak memikirkan brand, yang penting laris aja. Tapi seorang pebisnis akan memikirkan dengan mantap konsep yang diusung dalam produknya, termasuk pada saat mempromosikan lewat media sosial. Di sinilah pentingnya belajar membuat caption yang menarik.

Prita HW, knowledgepreneur di The Jannah Institute & profesional blogger


Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis caption agar membuat konsumen tertarik:
1.      Konsep yang matang
Membuat postingan di media sosial, terutama Instagram, itu nggak sembarangan, loh! Pemilihan warna background dan font pun sebaik mungkin disesuaikan dengan produk yang akan dipasarkan.
2.      Soft selling
Zaman sekarang orang paling males kalau melihat promosi yang bahasa jualannya to the point. Maka dari itu, menulis caption dengan soft selling akan lebih membuat konsumen penasaran.
3.      Benang merah antara gambar/foto dan caption
4.      Kaitkan dengan aktivitas sehari-hari
Menulis caption juga bisa dijadikan sarana personal branding. Merangkai kalimat dalam memadukan deskripsi produk dibalut sedikit penjelasan tentang aktivitas sehari-hari, tentu semakin membuat konsumen merasa engaged dengan kita.
5.      Komunikasi dua arah
Isi dari caption postingan kita sebaiknya juga mendandung kalimat yang mengajak konsumen untuk berkomunikasi dua arah. Contohnya dengan menggunakan kata sapaan seperti Moms, Girls, Bro atau yang lain, disesuaikan dengan target market produk.

Alfamart’s Collaboration with UMKM
Memasuki sesi ke tiga pelatihan ini, Mbak Vina (Merchandising Manager dari Alfamart) memberikan materi mengenai bagaimana produk UMKM dapat masuk perusahaan retail modern.
Di sini, Mbak Vina menjelaskan bahwa sebenarnya Alfamart itu welcome banget jika ada yang ingin memasukkan/memasarkan produknya di Alfamart. Namun tentu saja ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, seperti:
1.       Harus sesuai dengan segmen Alfamart
2.      Ketersediaan tempat
3.      Potensi permintaan pasar
4.      Tren penjualan barang
5.      Keterkaitan kategori barang (diusahakan tidk duplikasi)
6.      Dukungan atas ketersediaan barang

Mbak Vina, Merchandising Manager Alfamart


Beberapa contoh produk UMKM yang berhasil masuk Alfamart adalah Keripik Ma’icih dan Keripik Karuhun Bandung, serta Kerupuk Kemplang Palembang. Nah, buat para womenpreneur yang sudah memiliki brand atau produk, boleh tuh coba menghubungi Mbak Vina. Siapa tahu produknya bisa lolos review dan mejeng di Alfamart.

Nah, setelah mendapat pelatihan keren ini, tinggal kita praktekkan ilmunya, nih. Sesuaikan dengan passion kita masing-masing. Saya yakin perempuan zaman sekarang sudah semakin broadminded. Berkarya dan berdaya itu nggak harus kerja kantoran, kok. Asal kita tekun dan telaten mengasah skill, insyaa Allaah akan terbuka jalan untuk menebar manfaat bagi umat.



Salam berkarya dan berdaya dari rumah 😊




13 komentar:

  1. Yey, broadminded with local action ya mbak. Semangat berkarya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank u mba prita sudah mampir 😊.
      Hehe betuul, broadminded with local action goes global 💪

      Hapus
  2. zaman sekarang udah bukan hal aneh lagi y mbak bekerja dari rumah, yang laki2 aja banyak y hehe
    acarany seruuuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbaa, seru lho acaranya. Aku bawa pulang 2 bingkisan, hihihi

      Hapus
  3. Broadminded.Baru kenal istilah ini mba. #kudet

    BalasHapus
  4. Sampe manggut manggut yabg baca, tertanda setuju nb ipop hehee

    BalasHapus
  5. Berdaya dari Rumah.. butuh diajarin mbak.. masih berantakan managementnya waktuku..

    Semoga kelak bisa sehebat mbak prita, mbak Nana sm mba Ipop! AllohummAamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haduh mbaaa, saya juga masih berantakan time management nya 😥

      Hapus
  6. Baru nengok blognya mbak Ipop. Bagus mbakk.. Sejak terkahir kita yg ketemu di rumah ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaa ini masih berantakan mba, kategori sama medsos belum di-link 😥

      Hapus
  7. Next acara adalah bagaimana caranya buku indie anak juga masuk di retail modern :D

    BalasHapus